Detik berlalu terlihat pukul 03.30 WIB. Menunggu
atau bertindak itu sama saja saat keadaan yang tak seperti biasanya. malam bagiku
adalah gelap, aku sering bermain sendiri dan berteman dengan malam, hening
sunyi, hening sepi, hening malam kadang membuat kita lupa diri untuk kembali
pulang. Tetapi malam ini aku memilih untuk pulang lebih cepat karna ku rindukan
waktu malam mudaku untuk berbaring ke tempat tidurku. Nampaknya aku harus menyelam
lebih dalam untuk menyelamatkan apa yang tersimpan dalam jiwaku. aku menari-nari
bersama tangganku kutuliskan, kugambarkan, kupetikkan dan kuisyaratkan pesan
lewat jemariku. Kadang terlalu hening membuat kita lupa akan ada suara lain yang
menghentak sehingga suara itu asing untuk didengar membuat hati menjadi resah
dan berdebar takut yang menusuk sehingga mencari teman yang serupa tanpa sadar bahwa
diri ini sendiri di ruangan ini. Malam itu tak sepi, malam itu tak sunyi dan
ternyata malam itu tak seperti yang ku pikirkan? Aku mulai bertanya tentang pagi,
siang atau pun sore ? Lantas apa yang kau pikirkan tentang malam itu sama saja.
ia adalah waktu, sama seperti waktu-waktu yang lainnya.
Ku nyalakan music sedikit sendu agar pikiran terasa aman senang damai dalam masalah yang terpikirkan. Seruput teh panas dan asap yang kuhembuskan makin terasa nyaman perlahan sampai ke titik dimana aku lupa bahwa ini malam, berarti sama saja lupa untuk tidur atau ini memang bener-bener kusengaja, kulupakan malamku untuk tidur. Bagaimana aku bisa mengartikan malam? Jika, aku tak pernah menikmati malamku sendiri. Selama ini aku bukan menikmati atau pun merasakan tetapi merusaknya dengan apapun caraku sebagai manusia. Apa memang benar malam itu hanya diciptakan untuk dilupakan oleh sebagian orang. Tetapi jika aku tak ingin melupakannya! pagi, siang dan soreku tak akan indah lagi karna waktu mempersempit mataku untuk bergerak melakukan sebuah rutinitasku. Dan jika aku melupakan malamku aku akan bermimpi mengapai cita dengan harapan penuh dengan semangat karna lelah telah di bayarkan.
Malam yang hening, sunyi, dan sepi itu
adalah teman apa pun bentuk sebagai kenikmatan. Musuh terberat pun adalah malam,
ia dapat menghentikan waktu pagiku, siangku,
dan soreku. Nampak sedikit kejam tetapi iya selalu berselimut sebagai teman
akrabku saat aku kesepian. Semakin ku akrabkan diriku semakin ku bersahabat
denganya dan semakin pula dia menjadi musuh untuk waktuku. Kehidupanku adalah
sebagai penjelajah waktu, diriku adalah sebagai pengisi waktuku, apapun itu semuanya
akan menjadi sebuah kenangan dalam perjalananku "Ada yang lebih indah saat
malam dan ada yang lebih berarti saat tidur" Perjuangan hidup tak semudah
itu.
-akbar nugroho, cacatan kecil tentang waktu dan malam
tiba pergi seketika -
Sabtu, 17 september 2016, 03.30 WIB



No comments:
Post a Comment