Sunday, September 18, 2016

Inti jiwa yang tak terima


Pulang dengan hati resah, gugup untuk tidur takut terbawa mimpi yamg dalam menafsirkan mimpi itu buruk sekali. Sehingga membuat mata tak terpejam kaku terbaring di atas tempat tidurku. Tiba duduk dengan menghisap asap mulai bercerita tentang kehidupan dengan diri sendiri.



Terasa mendung dan hujan turun di tengah malam, hati yang tadinya ingin kembali tenang tiba-tiba kembali resah seperti tertusuk jarum berkali-kali ku sebut itu sebagai trapi energi dari hidupku. Seperti biasa dengan music sendu sebagai media penenang ritualisasiku hanya bisa ku resapi sampai tenang.



Aku berfikir jika aku takut hujan maka aku fikir aku harus menjadi hujan agar dia bisa berteman denganku. Aku takut menjadi hitam dan putih karna itu seperti perbedaan jauh.  Padahal suatu yang berbeda itu jika di satu kan maka terjadilah sebuah keindahan.

Sedikit yang bisa ku sadarkan karna tubuhku sudah penuh dengan rindingan yang tak berujung. Yang kurasakan cuma hanya aku sebenarnya sama sepertimu aku manusia dan kau manusia apa salahnya jika kita berbagi dan belajar bersama tentang apa pun itu tanpa ada kata untuk mengajari sesuatu hal yang di antaranya tak di sukai.

Walau inti jiwa ini tak terima tetapi dengan sadar hati ini harus belajar untuk melepaskan dan mengihklaskan apapun itu bentuknya. renungan yang terdalam adalah sadar apa yang ada dari dalam diri.

-akbar nugroho, berbicara dengan diri sendiri-

Senin, 19 september 2016. 11.28 WIB

No comments:

Post a Comment